Polisi Tetapkan Pelaku Pembunuhan satu Keluarga di Tangerang

 
Pers release Kepolisian menetapkan pelaku pembunuhan satu keluarga di Tangerang

Infosiang.com / TANGERANG / Polisi akhirnya menetapkan pelaku pembunuhan terhadap satu keluarga di Perum  Taman Kota Permai 2, Periuk, Kota Tangerang. 

Sehari sebelum pers release  dari pihak kepolisian, warga Perum Taman Kota Permai 2 , dibuat geger lantaran mendapati Emah (40) dan dua anaknya yakni Nova (23) dan Tiara (11) Warga perum Taman Kota tewas terbunuh dengan sejumlah luka bekas tusukan disekujur tubuhnya serta Muchtar Efendi (60) dalam kondisi kritis. 

Kejadian ini diketahui oleh warga perum Taman Kota Permai setelah sebelumnya Murti tetangga korban mencoba mengetuk pintu rumah Emah namun tidak ada jawaban. 

Murti merasa curiga karena tidak meliat anak Emah pergi sekolah serta tidak ada aktifitas seharian,  padahal Lampu teras menyala dan ada motornya. 

Setelah mencoba mengetuk pintu tidak ada jawaban, Murti kemudian melaporkan kejanggalan ini kepada ketua RT setempat. 

Berbekal kecurigaan ini, Ketua Rt dan Warga akhirnya memaksa masuk untuk memastikan keadaan dalam rumah Emah. 

Kecurigaan wargapun terjawab setelah masuk rumah, tiga orang ditemukan Tewas bersimbah darah, serta satu orang dalam keadaan kritis.

Sehari setelah kejadian ini polisi akhirnya menetapkan pelaku pembunuhan terhadap Emah dan kedua anaknya. 

Warga pun semakin dibuat kaget setelah mengetahui bahwa pelakunya adalah  Muchtar Efendi yang merupakan Suami Emah Sendiri. 

Polrestro Tangerang telah menetapkan pria berusia 60 tahun ini sebagai tersangka dalam tragedi pembantaian itu. 

Pelaku membunuh para korban lantaran faktor ekonomi. "Berdasarkan hasil otopsi ketiga korban ada beberapa luka tusukan di leher, perut, satu korban dalam keadaan luka parah, Muchtar Efendi dari hasil keterangan awal serta petunjuk, kami tetapkan sebagai tersangka," kata Kapolrestro Tangerang Komisaris Besar Harry Kurniawan, Selasa (13/2/2018). 

Harry mengatakan, pelaku membunuh istri dan kedua anak tirinya lantaran emosi. Sebab sang istri mencicil mobil tanpa sepengetahuannya. "Tiga hari sebelum kejadian pembunuhan terjadi, ada cekcok antara Emah sebagai korban istri siri ME terkait masalah jual beli mobil yang dilakukan istrinya ini tidak disetujui. Selama tiga hari cekcok terjadi di rumah itu yang akhirnya diakhiri pembunuhan," katanya. 

Menurut Harry, tersangka membunuh istri dan kedua anaknya menggunakan sebilah pisau. Senjata tajam ini disembunyikan di dalam lemari kamar belakang. "Menggunakan senjata tajam, keterangan tersebut didapatkan saat kami mengunjungi, alat yang digunakan diselipkan di salah satu lemari atau pun tempat pakaian," kata Harry. 

Harry menyebut akibat perbuatannya tersebut pelaku dijerat Pasal 338 dan 340 KUHP dengan ancaman hukuman seumur hidup. Kini, tersangka masih dalam perawatan intensif di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur  

Muchtar Efendi merupakan Suami ketiga Emah dengan pernikahan siri setelah sebelumya Ibu dua anak ini bercerai dari suami pertama dan kedua.

Nova dan Tiara merupakan anak dari suami sebelum Muchtar Edendi.

GND/ infosiang.com


Tragis, Suami diduga Bunuh Isteri dan Kedua Anaknya

 

Ketiga Korban meninggal bersimbah darah 

Infosiang.com - KISAH TRAGIS terjadi di Perum Taman Kota Permai 2, Blok B 6 RT 05 / RW 12 Kelurahan Priuk, Kecamatan Priuk, Kota Tangerang. Isteri dan dua anaknya ditemukan tewas bersimbah darah didalam kamar, sedangkan suami didapati dalam keadaan luka parah.

Peristiwa yang terjadi pada senin (12/02/18) pukul 15.00 WIB awalnya diketahui oleh Marti yang merupakan tetangga korban. Marti melihat ada motor didepan teras, tetapi tidak terlihat aktifitas didalam. Untuk memastikannya, Marti kemudian mengetuk pintu. Merasa khawatir ada sesuatu, Marti kemudian menghubungi ketua RT setempat untuk diajak bersama warga lain memastikan keadaan didalam rumah.

Setelah berhasil memeriksa keadaan didalam rumah, warga terkejut mendapati Emah (Isteri 40), Nova (Anak, 23), Tiara (Anak, 11) bersimbah darah dan dalam keadaan meninggal dan Efendi (Suami,48) dalam keadaan kritis.
Warga kemudian membawa Efendi ke Rumah sakit umum daerah Tangerang untuk diberikan pertolongan.

Warga beramai ramai mendatangi rumah tempat terjadinya pembunuhan. / Foto : facebook@Nuneng


Menurut informasi yang digali oleh batas.id, Emah dan Efendi memang sering bertengkar dalam kesehariannya. Faktor Ekonomi sering menjadi pemicu pertengkaran antara keduanya. Efendi sendiri adalah suami ketiga Emah, setelah sempat bercerai dua kali. Kedua anaknya merupakan hasil buah perkawinan sebelumnya.
Oleh tetangga Emah diketahui sebagai penjual baju muslim, sedangkan Efendi tidak diketahui pekerjaannya sebagai apa.

BACA : Polisi Tetapkan Pelaku Pembunuhan Satu Keluarga Di Taman Kota Permai, Tangerang

Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Harry Kurniawan mengatakan, pihaknya masih mendalami kasus ini dan belum bisa menyimpulkan apa motif dibaliknya.
Dugaan bahwa suami adalah pelaku pembunuhan datang dari tetangga korban yang menyimpulkan berdasar seringnya mereka cek cok hampir setiap hari.

Sumber ESW batas.id

Mitos Tanjakan Emen Subang

 


infosiang.com -  Tanjakan Emen di Subang kembali memakan korban jiwa. Kali ini, 27 orang tewas setelah bus yang mereka tumpangi terguling di kawasan turunan Cicenang, Desa Ciater, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Sabtu sore 10 Februari 2018. 
Bukan sekali ini saja tanjakan Emen ini memakan korban. 

 Sebelum kecelakaan kemarin, terakhir tercatat kecelakaan maut yang memakan korban cukup banyak adalah pada Juni 2014. Saat itu bus yang ditumpangi siswa SMA Al Huda Cengkareng, Jakarta Barat terguling di lokasi ini. Sembilan orang yang terdiri dari murid dan guru tewas. 

Tanjakan Emen di Desa Cicenang diberi nama dari seorang sopir bus bernama Emen yang mengalami kecelakaan maut di lokasi itu pada sekitar 1960. Setelah kecelakaan itu, muncul mitos: setiap tahun tanjakan Emen menelan korban jiwa. 

Untuk menghindari nasib sial, banyak sopir membuang puntung rokok yang menyala saat melintas di tanjakan Emen. Konon, para sopir selalu merokok saat menyetir kendaraannya. Struktur jalan di tanjakan Emen sepanjang 3 kilometer di kawasan Tangkuban Parahu itu sejak dulu memang curam. Kecuraman tanjakan Emen sebenarnya masih kalah dari tanjakan Puncak, Cianjur. Namun kemiringan 45-50 derajat membuat beda Tanjakan Emen. 

Pengemudi kerap merasa enak meluncur dari arah Tangkuban Parahu. Sebaliknya, pengendara sangat berat jika menanjak dari arah Ciater. 

 Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan pernah mengatakan akan mengevaluasi struktur jalan di Tanjakan Emen ini. "Saya khawatir mitos (tanjakan) Emen jadi bener, setiap tahun ada saja masalah di situ," kata Aher pada 18 Juni 2014 silam. 

 Menurut Kepala Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Subang Ajun Komisaris Budhy Hendratno kondisi jalan yang yang dilalui bus pengangkut rombongan dari ciputat itu memiliki permukaan aspal hotmix yang bagus. "Jalan beraspal bagus, menikung dan menurun dari arah Bandung menuju arah Subang," ujar Budhy lewat keterangan tertulisnya Sabtu, 10 Februari 

 November 2004,
 Tiga tewas Bus pariwisata asal Jakarta bernasib kurang beruntung di Tanjakan Emen.
Setelah pulang dari arah Bandung, sopir bus tidak kuasa mengendalikan bus dan tergelincir kemudian terbalik. Diduga bus mengalami rem blong yang mengakibatkan tiga orang tewas dan belasan luka. 
Selain rem blong, kondisi ban bus sudah gundul. 

September 2009, tujuh tewas Medan berat Tanjakan Emen dirasakan warga Buaran, Serpong, Tangerang Selatan. Sebanyak 41 orang mencarter bus Parahyangan berwisata ke Tangkuban Parahu. Nahas, ketika pulang bus mengalami rem blong. Sempat menabrak sebuah mobil dan terguling beberapa kali. Tujuh korban warga Serpong itu tewas sementara belasan lainnya luka berat. 

Oktober 2011, tiga tewas Kecelakaan kali ini menimpa penumpang minibus pariwisata yang membawa wisatawan asal Belgia. Saksi mata melihat minibus sempat mengebut dari arah Tangkuban Perahu kemudian minibus oleng dan menabrak tebing. Tiga penumpang langsung tewas di tempat dan sembilan orang mengalami luka berat. 

Oktober 2012, empat tewas Bus Dian Mitra berjalan menurun dari Tangkuban Parahu ke arah Ciater. Waktu itu bus membawa sekitar 20 wisatawan asal Taiwan. Pukul 11.20 bus menabrak motor sehingga langsung membuat bus oleng dan menabrak tebing dan terguling menutupi jalan. Sebanyak tiga orang asing dan seorang pemandu wisata langsung meninggal. Korban lain sebanyak 26 harus dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung.

 Juni 2014, sembilan tewas Rombongan SMA Al Huda, Cengkareng, Jakarta Barat mengalami kecelakaan di Tanjakan Emen setelah bus yang mereka tumpangi terguling. Sebanyak 9 orang yang terdiri dari guru dan murid tewas.

Sumber : Tempo

Tanjakan Emen Banyak Menelan Korban Jiwa, Angkerkah ?

 
Tanjakan Emen, Subang, Jawa
infosiang.com -  Tanjakan Emen di Subang kembali memakan korban jiwa. Kali ini, 27 orang tewas setelah bus yang mereka tumpangi terguling di kawasan turunan Cicenang, Desa Ciater, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Sabtu sore 10 Februari 2018. 

Bukan sekali ini saja tanjakan Emen ini memakan korban. 

 Sebelum kecelakaan kemarin, terakhir tercatat kecelakaan maut yang memakan korban cukup banyak adalah pada Juni 2014. Saat itu bus yang ditumpangi siswa SMA Al Huda Cengkareng, Jakarta Barat terguling di lokasi ini. Sembilan orang yang terdiri dari murid dan guru tewas. 

Tanjakan Emen di Desa Cicenang diberi nama dari seorang sopir bus bernama Emen yang mengalami kecelakaan maut di lokasi itu pada sekitar 1960. Setelah kecelakaan itu, muncul mitos: setiap tahun tanjakan Emen menelan korban jiwa. 

Untuk menghindari nasib sial, banyak sopir membuang puntung rokok yang menyala saat melintas di tanjakan Emen. Konon, para sopir selalu merokok saat menyetir kendaraannya. Struktur jalan di tanjakan Emen sepanjang 3 kilometer di kawasan Tangkuban Parahu itu sejak dulu memang curam. Kecuraman tanjakan Emen sebenarnya masih kalah dari tanjakan Puncak, Cianjur. Namun kemiringan 45-50 derajat membuat beda Tanjakan Emen. 

Pengemudi kerap merasa enak meluncur dari arah Tangkuban Parahu. Sebaliknya, pengendara sangat berat jika menanjak dari arah Ciater. 

 Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan pernah mengatakan akan mengevaluasi struktur jalan di Tanjakan Emen ini. "Saya khawatir mitos (tanjakan) Emen jadi bener, setiap tahun ada saja masalah di situ," kata Aher pada 18 Juni 2014 silam. 

 Menurut Kepala Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Subang Ajun Komisaris Budhy Hendratno kondisi jalan yang yang dilalui bus pengangkut rombongan dari ciputat itu memiliki permukaan aspal hotmix yang bagus. "Jalan beraspal bagus, menikung dan menurun dari arah Bandung menuju arah Subang," ujar Budhy lewat keterangan tertulisnya Sabtu, 10 Februari 2018. 

 Berikut daftar kecelakaan yang direkam Tempo di Tanjakan Emen: 

 November 2004,
 Tiga tewas Bus pariwisata asal Jakarta bernasib kurang beruntung di Tanjakan Emen.
Setelah pulang dari arah Bandung, sopir bus tidak kuasa mengendalikan bus dan tergelincir kemudian terbalik. Diduga bus mengalami rem blong yang mengakibatkan tiga orang tewas dan belasan luka. 
Selain rem blong, kondisi ban bus sudah gundul. 

September 2009, tujuh tewas Medan berat Tanjakan Emen dirasakan warga Buaran, Serpong, Tangerang Selatan. Sebanyak 41 orang mencarter bus Parahyangan berwisata ke Tangkuban Parahu. Nahas, ketika pulang bus mengalami rem blong. Sempat menabrak sebuah mobil dan terguling beberapa kali. Tujuh korban warga Serpong itu tewas sementara belasan lainnya luka berat. 

Oktober 2011, tiga tewas Kecelakaan kali ini menimpa penumpang minibus pariwisata yang membawa wisatawan asal Belgia. Saksi mata melihat minibus sempat mengebut dari arah Tangkuban Perahu kemudian minibus oleng dan menabrak tebing. Tiga penumpang langsung tewas di tempat dan sembilan orang mengalami luka berat. 

Oktober 2012, empat tewas Bus Dian Mitra berjalan menurun dari Tangkuban Parahu ke arah Ciater. Waktu itu bus membawa sekitar 20 wisatawan asal Taiwan. Pukul 11.20 bus menabrak motor sehingga langsung membuat bus oleng dan menabrak tebing dan terguling menutupi jalan. Sebanyak tiga orang asing dan seorang pemandu wisata langsung meninggal. Korban lain sebanyak 26 harus dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung.

 Juni 2014, sembilan tewas Rombongan SMA Al Huda, Cengkareng, Jakarta Barat mengalami kecelakaan di Tanjakan Emen setelah bus yang mereka tumpangi terguling. Sebanyak 9 orang yang terdiri dari guru dan murid tewas.

Sumber : Tempo

Kecelakaan Bus ditanjakan Subang, ini penyebabnya

 


Kecelakaan terjadi di Tanjakan Emen, Ciater, Subang, Jawa Barat pukul 17.00 WIB.

 Kecelakaan ini menyebabkan 15 penumpang meninggal. Kecelakaan bus itu terjadi karena diduga rem blong. Saksi menuturkan, dia bersama tetangga-tetangganya ingin berwisata ke Lembang dan berangkat pukul 06.30 WIB tadi. Rencananya, malam ini mereka langsung pulang.

 Rombongan merupakan warga Kampung Legoso, Kelurahan Pisangan Timur, Kecamatan Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. "Kami serombongan ada tiga bus. Satu bus yang kecelakaan, 15 orang meninggal tapi kemungkinan bisa bertambah.

Sudah ada polisi," ujar Asep yang berada di bus yang tidak terlibat kecelakaan. Salah seorang warga sekitar, Iwan Setiawan (45) menuturkan, bus pariwisata Premium Class ini sebelumnya melaju dari arah Bandung menuju Subang. Saat tiba di turunan Cicenang, bus tiba-tiba terbalik dan menabrak sepeda motor honda beat T4382MH.

Kecelakaan Bus di Tanjakan Emen Subang, Belasan Penumpang Meninggal

 


Kecelakaan terjadi di Tanjakan Emen, Ciater, Subang, Jawa Barat pukul 17.00 WIB. Kecelakaan ini menyebabkan 15 penumpang meninggal.

Kecelakaan bus itu terjadi karena diduga rem blong.

Saksi menuturkan, dia bersama tetangga-tetangganya ingin berwisata ke Lembang dan berangkat pukul 06.30 WIB tadi. Rencananya, malam ini mereka langsung pulang.

Rombongan merupakan warga Kampung Legoso, Kelurahan Pisangan Timur, Kecamatan Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. "Kami serombongan ada tiga bus. Satu bus yang kecelakaan, 15 orang meninggal tapi kemungkinan bisa bertambah.

Sudah ada polisi," ujar Asep yang berada di bus yang tidak terlibat kecelakaan. Salah seorang warga sekitar, Iwan Setiawan (45) menuturkan, bus pariwisata Premium Class ini sebelumnya melaju dari arah Bandung menuju Subang.

Saat tiba di turunan Cicenang, bus tiba-tiba terbalik dan menabrak sepeda motor honda beat T4382MH.

Ini Penyebab Pengeroyokan Anak SMP di hutan, Videonya Viral

 
Pause video pengeroyokan yang dilakukan oleh siswa SMP

infosiang.com - VIDEO PENGEROYOKAN yang dilakukan oleh sekelompok anak sekolah dihutan sudah didapati titik terang dimana  peristiwa itu terjadi. 

Video berdurasi 1,38 Menit ini memperlihatkan peristiwa pengeroyokan yang dilakukan oleh anak anak sekolah berseragam SMP kepada salah satu anak yang juga masih berseragam sekolah SMP.

Belakangan terungkap, bahwa pengeroyokan itu terjadi di hutan karet daerah Karanganyar Jawa Tengah.

Polisi sektor Kerjo, Karanganyar, yang melakukan patroli cyber akhirnya mendapat titik terang  siapa dan dari mana perlaku pengeroyokan  tersebut.

Dari olah hasil penyelidikan kepolisian, didapatkan hasil bahwa yang melakukan pengeroyokan yang ada didalam video adalah siswa SMPN 2 Kerjo, Siswa SMPN 3 Kerjo dan siswa SMP Muhammadiyah Kerjo Karanganyar.

Setelah mengantongi identitas baik pelaku maupun korban, pihak kepolisian dalam hal ini Polres Karanganyar yang menangani kasus ini memidiasi pertemuan semua pihak dengan memanggil Orang Tua Siswa, Pihak sekolah untuk diberikan arahan bersama.

Saat dikonfirmasi, Kasatlantas Polres Karanganyar, AKP Purbo Ajar Waskito mengakui video tersebut benar adanya. Menurutnya penganiayaan tersebut terjadi pada 6 Februari 2018. Saat itu ia menjelaskan pihak Polsek Kerjo sedang melakukan patroli cyber. "Dari Polsek Kerjo mendapatkan video itu. Karena viral di masyarakat, mereka langsung bertindak dan berkoordinasi dengan Satreskrim Polres Karanganyar," jelasnya.

Setelah melakukan mediasi, Purbo mengatakan hasilnya sang korban beserta orangtuanya tak akan menempuh jalur hukum. "Korban tak membawa masalah ini ke jalur hukum. Artinya, bakal diselesaikan secara kekeluargaan," ungkapnya.

 Kronologi, menurut Purbo awalnya pada 5 Februari 2018, korban ini membawa motor melintasi salah seorang pelaku saat sedang tongkrong di sebuah tempat di Karanganyar. "Saat melintasi, si korban ini mbleyer-mbleyer. Pelaku ini tersinggung lalu mengajak temannya untuk mengeroyok si korban sehari setelahnya," ujarnya.

 Ia mengatakan penganiayaan terjadi di kawasan kebun pohon karet di daerah Kerjo Karanganyar. "Awalnya korban ini mau minta maaf dengan pelaku, tetapi para pelaku ini berjumlah 6 orang menganiaya si korban," ujarnya. Purbo pun mengaku setuju dengan hasil mediasi korban dengan pelaku, yakni diselesaikan secara kekeluargaan. Karena baik pelaku maupun korban masih di bawah umur, maka penyelesaian secara kekeluargaan menjadi opsi terbaik.

 Kapolres Karanganyar, AKBP Henik Maryanto menambahkan saat ini kasus tersebut sudah ditangani aparat Polres Karanganyar. Dia memastikan, kondisi korban saat ini tidak mengalami luka parah.



Menculik Anak di Argentina, Tertangkapnya di Indonesia, Begini Kejadiannya

 
Gadis cantik Argentina yang diculik dan ditemukan di Indonesia
infosiang.com - PENCULIKAN. Alum, gadis yang pernah diculik ayahnya tujuh bulan yang lalu, ditemukan di Indonesia. Berita tersebut dikonfirmasi oleh Kementerian Luar Negeri Argentina melalui sebuah pernyataan resmi.

 Masih belum diketahui apa yang terjadi pada ayah dan pacarnya, yang dengannya tuduhan menuduh seseorang "menculik seseorang". Diperkirakan gadis tujuh tahun itu akan dipertemukan kembali dengan ibunya di siang hari 6 Februari 2018 Alum berusia 7 tahun Alum berusia 7 tahun Setelah tujuh bulan menunggu, Elizabeth Ávalos menemukan kabar terbaik: putrinya yang berusia tujuh tahun, Alum Langone Ávalos, ditemukan di Republik Indonesia dan mereka dapat bertemu lagi setelah setengah tahun menderita dan putus asa.

Kementerian Luar Negeri mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa gadis tersebut ditemukan di negara Asia Tenggara dan akan diserahkan ke otoritas konsulat Argentina, di mana dia dapat menghubungi ibunya, yang telah berada di sana selama beberapa minggu. "Pemerintah Republik Argentina sangat berterima kasih kepada pihak berwenang Indonesia, terutama Polisi Jakarta dan Sulawesi, serta Kantor Kejaksaan Kota Toraja dan INTERPOL Indonesia," kata pernyataan resmi tersebut. . Dan menambahkan: "Kami menyoroti karya profesional dan manusiawi pejabat kami di Kedutaan Malaysia dan Indonesia, yang menerima surat perintah dari Pengadilan Pidana Nasional dan Pengadilan Tinggi No. 32, yang bertanggung jawab atas Hakim Santiago Quian Zavalía." Kami masih belum tahu banyak detail tentang proses dimana ditemukan gadis Argentina itu.

Tidak diketahui apakah itu disampaikan oleh ayahnya, Jorge Langoni, atau jika polisi setempat menemukannya dan bertindak sesuai dengan itu. Menurut Kanselir itu sendiri, untuk mencapai keberhasilan pencarian, karya beberapa warga negara Indonesia yang memberikan informasi penting untuk temuan tersebut adalah kuncinya.

 Sementara itu, Infobae mencoba menghubungi Elizabeth Ávalos, namun masih belum ada tanggapan. Kisah dramatis dimulai pada tanggal 5 Juni 2017, ketika Jorge Langone pergi ke sekolah República Oriental del Uruguay, di lingkungan Buenos Aires, Flores, untuk mencari Alum. Lalu mereka lenyap. Tidak ada yang terdengar tentang mereka. Sejak hari itu sampai kemarin, ibu si gadis tidak memiliki kontak atau berita tentang keberadaan putrinya. Pada bulan yang sama, sebuah pertempuran birokrasi yang besar dimulai dimana ibu ditekan oleh waktu (faktor yang dimainkan melawannya) dan harus menghadapi keterbatasan dan dokumentasi untuk menyetujui segala jenis.

 Elizabeth Ávalos, ibu si gadis, telah melakukan perjalanan ke Asia Tenggara untuk menemukan putrinya Elizabeth Ávalos, ibu si gadis, telah melakukan perjalanan ke Asia Tenggara untuk menemukan putrinya Dalam beberapa minggu, sang ibu tahu bahwa ayahnya telah membawa putrinya ke luar negeri. Juga ada bersama mereka Candela Gutiérrez, pacar Langone. Menurut informasi yang dihimpun oleh Ávalos, pada awalnya mereka berada di Bolivia dan Brasil dan setelah beberapa saat mereka tiba di Asia. Di sana, mereka tinggal beberapa minggu di Malaysia dan kemudian pindah ke Indonesia, tempat mereka tinggal sampai ditemukannya si gadis.

 Situasi Langone dan Gutiérrez juga tidak diketahui. Keduanya didakwa di Argentina karena menculik seseororang.